What is Happening

10 Apr 2017

Pemutaran Film A Day in the Life

Pada awal tahun 2015 Presiden Joko Widodo, atau yang akrab dipanggil Jokowi menyatakan bahwa Indonesia dalam keadaan “DARURAT NARKOBA” dan secara tegas pemerintah menyatakan perang terhadap Narkoba. Kebijakan perang terhadap Narkoba yang jalankan oleh pemerintah Indonesia dibawah kepemimpinan Presiden Jokowi, benar-benar menggambarkan perang dimana begitu banyaknya praktek kekerasan dalam penanganan perkara narkotika. Banyak jatuh korban jiwa akibat tindakan represif penegak hukum selama deklarasi perang terhadap narkoba, kriminalisasi kepada pengguna narkoba sebagai penyebab over kapasitas Lapas maupun Rutan yang dikarenakan banyaknya penangkapan-penangkapan kepada setiap orang yang kedapatan memiliki narkoba (meskipun dalam jumlah yang tidak melampauai ketentuan Surat Edaran Mahkamah Agung/SEMA), rendahnya jumlah pengguna napza yang dapat dijangkau untuk dirujuk ke layanan kesehatan, meluasnya penyebaran HIV dan AIDS termasuk Hepatitis C serta meningkatnya angka kriminalitas.

Istvan Gabor Takacs adalah seorang aktifis dan pembuat film yang berkebangsaan Hungaria bersama Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI), dengan dukungan dari Right  Reporters  Foundation serta kerjasama yang intens bersama tim produksi dari beberapa jaringan pengguna napza 7 negara (tempat dimana film ini dibuat) bekerja keras membuat film dengan judul “A Day in the life: The World of Humans Who Use Drugs” yang mendokumentasikan kehidupan nyata/yang sebenarnya mengenai aktifikas keheharian dari pengguna napza.

Film ini membawa kita untuk masuk kedalam berbagai scene yang dilalui selama satu hari dalam kehidupan delapan orang pengguna napza, dari tujuh kota, di tujuh negara berbeda di dunia, dari pagi sampai malam. Satu dengan lainnya dari delapan orang yang ada dalam film ini, meskipun mereka berbeda Negara, ras, Pendidikan, strata ekonomi dan latar belakang budaya namun mereka memiliki satu kesamaan, semua dari mereka adalah pengguna napza. Namun siapa mereka dan peran mereka dalam kehidupan, tidak ditentukan oleh penggunaan napza. Masing-masing dari mereka memiliki kehidupan dan kepribadian yang unik selain menjalankan peran sosial mereka juga sebagai aktifis yang memperjuangkan hak-hak pengguna napza lainnya. Film ini bukan hanya tentang pengguna napza namun lebih jauh, bahwa film ini juga diproduksi oleh pengguna napza. Film ini diharapkan dapat merubah mitos yang berkembang secara umum dan prasangka negative tentang narkoba  maupun pengguna napza. Film ini menyuarakan tentang fakta yang mewakili salah satu komunitas paling terpinggirkan dari dunia kita, untuk menceritakan kisah yang tidak terungkap tentang kebencian, cinta, penderitaan, kebahagiaan dan tanggung jawab serta  menunjukkan bagaimana mereka terlibat dalam aktivisme sosial untuk memecah keheningan dan melawan stigma yang membayangi kehidupan mereka.

Film ini diharapkan juga dapat menjadi media untuk mengekspos realita yang harus dihadapi oleh pengguna narkoba di dunia. Untuk suksesnya tujuan dari publikasi film ini maka diperlukan rangkaian kegiatan yang melibatkan beragam komponen masyarakat, semisal; Media, akademisi, komunitas terdampak, pemangku kepentingan dan kelompok-kelompok lainnya.

Sehubungan dengan hal tersebut pada hari Jumat,7 April 2017, bertempat di Manik Organik Kafe Seminyak Bali, PKNI dengan dukungan dari teman-teman komunitas IKON Bali serta ketersediaan Manik Organik sebagai tempat melaksanakan kegiatan pemutaran film A Day in the Life. Edo Agustian dari PKNI, yang juga ikut bermain di film ini mengatakan  bahwa pemilihan tempat screening di Bali adalah karena kota ini menjadi tempat lahirnya program harm reduction di Indonesia. Turut berbicara di acara itu; I Wayan Suardana , SH  yang senada dengan film ini, telah menggaungkan dekriminalisasi pengguna napza sejak lama. Bahkan laki-laki yang akrab dipanggil Gendo ini telah datang ke tempat seperti Budapest dan Kopenhagen untuk melihat bagaimana dekriminalisasi di tempat tersebut. Sedangkan untuk melihat film A Day in the Life dari sudut pandang film, hadir  Erick Ebert Sabungan Tambunan yang merupakan kritikus film. Di mana ia menganggap walau film ini punya durasi yang terlalu panjang tapi berhasil menggambarkan berbagai masalah yang dihadapi pengguna napza dari berbagai penjuru dunia. Terakhir sebagai pembicara undangan ada dr. Ni Made Leni yang dianggap ibunya para pengguna napza di Bali yang menganggap film ini penting untuk diputar agar membuka mata masyarakat pada masalah pengguna napza sehari-hari. Turut hadir sebagai undangan dan ikut menanggapi perwakilan dari Kasi Rehabilitasi BNNP Bali yang mengakui memang masih ada oknum nakal yang tidak melanggengkan proses dekriminalisasi pengguna napza.