What is Happening

10 Apr 2017

Perempuan Bersuara : kesempatan mengenal CEDAW merupakan langkah besar advokasi perempuan pengguna NAPZA

Tanggal 7 April 2017 menjadi tanggal yang bersejarah bagi Perempuan Penguna NAPZA Indonesia (PPKNI). Keterlibatan dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh International Women’s Right Action Watch (IWRAW) Asia Pasific bekerja sama dengan Eurasian Harm Reduction Network (EHRN) di Vilnius, Lithuania merupakan salah satu langkah besar.

Tujuan utama dari pertemuan ini diantaranya: (1) memahami konteks dari pelanggaran HAM dan cakupan perlindungan hak asasi manusia bagi perempuan pengguna NAPZA di bawah hukum internasional dan kerangka kebijakan , (2) merundingkan pendekatan bersama yang komprehensif perlindungan HAM perempuan pengguna NAPZA berdasarkan prinsip partisipatif dari perempuan yang terpinggirkan, kesetaraan substantif, dan pendekatan kolektif terhadap non-diskriminasi, sebagai bentuk penghormatan pada kebersamaan, indivisibilitas dan keterkaitan lainnya bagi HAM perempuan.

Pertemuan satu hari ini terbagi menjadi 4 (empat) sesi besar yaitu: 1) Memahami situasi dan konteks pelanggaran HAM perempuan pengguna NAPZA 2)hukum internasional yang ada untuk melindungi hak dari perempuan pengguna NAPZA 3) melakukan advokasi hak asasi bagi perempuan penguna NAPZA meliputi tantangan dan kesempatan, dan 4) penerapan strategi penguatan melalui CEDAW (Committee on Elimination of All Forms of Discrimination against Women) untuk melindungi hak dari perempuan pengguna NAPZA atau yang biasa dikenal dalam kegiatan di Indonesia adalah mengnai Rencana Tindak Lanjut (RTL).

Tujuan besar dari adanya peretmuan ini adalah untuk memberikan rekomendasi kepada komite CEDAW mengenai fenomena diskriminasi dan kekerasan yang dialami oleh perempuan pengguna NAPZA. Maka dari itu salah seorang anggota komite CEDAW yang merupakan warga lokal Vilnius diundang hadir juga dalam pertemuan ini.

Pertemuan dimulai dengan paparan narasi beberapa Ekspertis . Pertama adalah Daniel Joloy dari Amnesty Internastional yang menceritakan bahwa kerangka internasional kebijakan narkotika internasional memang memiliki semangat dasar penghukuman sehingga hal tersebut juga yang diadaptasi oleh banyak negara. Namun ditekankan kembali oleh David bahwa advokasi dan perubahan kebijakan narkotika di tiap negara tetap dapat dilakukan oleh masing-masing aktifis negara.

Pembicara berikutnya adalah Mikhael Golichenko yang merupakan bagian dari Canadian Drugs Policy bahwa terjadi di Rusia adalah ketiadaan consent dari dokter terhadap kliennya, terlihat dari dunia kesehatan bekerja sama dengan penegak hukum sehingga dokter bekerja sama dengan polisi dalam penegakan hukum sehingga tidak terdapat kerahasiaan bagi klien. Selanjutnya ia menjelaskan juga mengenai konsep dari diskriminasi itu sendiri yang memiliki dua arti, yaitu adanya sebuah kebutuhan yang tidak terpenuhi kemudian adanya fenomena akan kebutuhan spesifik namun yang tersedia hanyalah layanan kesehatan yang umum. Dalam kondisi tersebut akhirnya memunculkan hambatan-hambatan yang spesifik pada kebutuhan khusus. Kondisi yang ketiga yang terjadi adalah kesulitan dengan ketidakadaan  pendukung dari perempuan pengguna NAPZA sehingga melemahkan.

Sesi pertama dilanjutkan dengan  paparan Madea mengenai situasi perempuan pengguna NAPZA di Georgia dan Svitlana yang menceritakan mengenai perempuan pengguna NAPZA di Ukraine yang terus menerus bekerja untuk membersihkan data statistic mereka sehingga benar-benar diperoleh data hanya bagi perempuan pengguna NAPZA saja. Sesi pertama ditutup oleh Dripti yang memberikan resume paparan. Judy Chang dari INPUD mencatat khusus bahwa isu feminism dan budaya patriarki juga memiliki peranan dalam membangun konsep perempuan sebagai korban. Dasha Matyushina juga menekankan bahwa di negara Baltic, melakukan pengendalaian pada populasi merupakan bagian dari sistem pengawasan negara.

Selanjutnya komite CEDAW yang hadir dalam pertemuan hari ini memberikan pengantar pada peserta rapat bahwa cara yang dapap digunakan untuk perempuan pengguna NAPZA dapat masuk perhatian dalam CEDAW adalah dengan membuat sebanyak-banyaknya laporan bayangan (shadow report) CEDAW dari masing-masing negara. Penelitian merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh angka fenomena perempuan pengguna NAPZA. Selain dari penelitian adalah mempublikasikan dokumentasi-dokumentasi yang ada terkait dengan perempuan pengguna NAPZA, dapat berupa testimony secara individual perempuan pengguna NAPZA itu sendiri, meupun kelompok. Publikasi tersebut kemudian akan menjadi referensi komite CEDAW untuk mempertimbangkan perempuan pengguna NAPZA menjadi bagian perhatian.

Sesi ketiga setelah makan siang dilanjutkan dengan paparan Dasha Matyushina terkait tantangan dan kesempatan dari perempuan penggguna NAPZA. Salah satu hal yang dipstikan menjadi kesempatan (opportunity) adalah mengumpulkan kasus dari komunitas dan mendokumentasikan dengan baik kasus per kasus, untuk hal ini diperlukan managemen kasus dalam oraganiasi. Selanjutnya yang menjadi tantangan adalah donor yang cenderung memberi dukungan minim, tantangan berikutnya adalah kekuatan dari dampak perempuan pengguna NAPZA itu sendiri secara lokal, nasional, dan internasional kemudian dari dampak internasional tersebut dikembalikan pada level nasional kemudian level lokal sehingga mampu membangun kapasitas lokal. Tantangan berikutnya adalah mengenai safety dari perempuan pengguna NAPZA, dan terakhir adalah mengenai burn out management dari komunitas yang jarang sekali disadari oleh orang-orang didalamnya kemudian mengakibatkan relapse yang terkadang menjadi hambatan dalam pergerakannya.

Penutup dari pertemuan ini adalah mengenai tindak lanjut bersama yang akan dilakukan selanjutnya dalam rangka mengadvokasi kebutuhan perempuan pengguna NAPZA untuk masuk dalam perhatian CEDAW. Hal utama yang harus dilakukan adalah menerbitkan shadow report CEDAW sebanyak-banyaknya dan mempublikasikan, selain itu juga mendokumentasikan setiap kasus dari perempuan pengguna NAPZA yang ada dan mempublikasikannya juga. Berdasarkan dua hal tersebut maka Indonesia juga perlu melakukan hal serupa, IWRAW berkomitmen untuk mengawal pembuatan shadow report dari Indonesia karena Indonesia sama sekali belum pernah membuat shadow report CEDAW terkait kebutuhan perempuan pengguna NAPZA. Langkah lanjut lainnya, menurut Tripti, yang juga perlu dilakukan oleh peserta pertemuan adalah diperlukannya capacity building untuk membuat shadow report tersebut.  Langkah lebih lanjut dari peretemuan ini adalah peserta melakukan kompilasi dari hasil pertemuan yang akan diserahkan pada komite CEDAW, menyusun strategi lanjutan, dan meng-update pertemuan CEDAW berikutnya, khusus untuk kebutuhan perempuan pengguna NAPZA.