What is Happening

02 Aug 2017

POTRET HITAM-PUTIH PEREMPUAN DAN NAPZA

Depok, 18 Juli 2017 – PKNI bekerja sama dengan MaPPI dan lembaga lainnya sukses menggelar Pameran foto bertema “Perempuan dan Napza” yang berlokasi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH - UI). Pameran tersebut dihadiri serta melibatkan langsung oleh para kontributor foto, yaitu anggota PPKNI (Persaudaraan Perempuan Korban NAPZA Indonesia) dan salah satu fotografer independen yang merupakan mitra dari PPKNI.

Sebanyak 20 (dua puluh) foto hitam putih yang dicetak diatas kanvas ukuran A2 dan dibalut bingkai minimalis dipamerkan selama dua hari. Tujuan dari diadakannya pameran tersebut adalah untuk meningkatkan kepekaan dan kesadaran masyarakat (raising awareness) khususnya lapisan masyarakat perguruan tinggi atau lingkungan akademisi terhadap eksistensi komunitas atau kelompok perempuan korban atau pengguna NAPZA.

“Kami senang sebagian foto-foto dari perempuan pengguna atau korban NAPZA bisa ikut serta dalam pameran seperti ini dan kami berharap agar kegiatan ini kemudian bisa menjadi sosialisasi yang baik dengan tujuan untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap mereka dan melihat isu atau permasalahan dengan perspektif yang lebih luas,” kata salah satu kontributor foto.

Sebagai kelompok yang rentan mengalami viktimisasi dan kriminalisasi, perempuan merupakan hidden population ditengah isu NAPZA, hukum, kesehatan dan HAM. Sedikit atau hampir belum ada program atau kebijakan yang khusus menyasar kelompok perempuan. Fakta tersebut setidaknya tercatat dalam hasil penelitian kuantitatif Perempuan Bersuara yang pernah dilakukan oleh PKNI pada tahun 2014 dan 2015.

Hasil penelitian tersebut juga merupakan basis data pertama dalam pemetaan permasalahan kelompok perempuan pengguna serta korban NAPZA. Sejumlah kekerasan baik dari aparat penegak hukum maupun dari keluarga dan masyarakat umum diakui oleh responden yang mengalaminya.

Para kontributor foto yang hadir dalam pameran ini juga merupakan individu yang terlibat dalam penelitian tersebut, yaitu Persaudaraan Perempuan Korban NAPZA Indonesia (PPKNI). Selain terlibat dalam kegiatan pameran foto, perwakilan PPKNI juga melakukan pertemuan berkala. Pertemuan yang difasilitasi oleh PKNI ini bertujuan untuk melengkapi dokumen pendukung yang bersifat administratif dan mendiskusikan rencana serta langkah pergerakan kelompok mereka.

Data base keanggotaan PPKNI akan direvisi dengan format paling sederhana dan memudahkan key vocal point untuk menginventaris,” ujar salah satu anggota PPKNI dalam pertemuan siang itu.

Selain membahas tentang administrasi keanggotaan serta rencana diseminasinya ke seluruh anggota PPKNI yang tersebar dalam 12 (dua belas) wilayah di Indonesia, mereka juga membahas kategori keanggotaan yaitu meliputi individu dan pengguna NAPZA sekaligus mantan pengguna NAPZA sekaligus membahas rencana pembahasan zat yang akan difokuskan.

Disamping juga merencanakan desain dan makna untuk lambang dari PPKNI, selanjutnya juga mereka membahas rencana assessment kebutuhan perempuan pengguna napza. “Akan dilakukan oleh masing-masing key vocal point per wilayah dengan tujuan untuk memetakan perkembangan dan dampak dari tren zat lokal, kebutuhan layanan lokal, dan situasi terkini dari masing-masing wilayah,” kata salah satu anggota PPKNI.

Tujuan dari assessment itu agar pergerakan atau upaya advokasi yang dilakukan oleh PPKNI dapat merespon sesuai dengan kebutuhan yang nyata. Mereka sangat berharap agar dengan komitmen bersama dari masing-masing perwakilan, maka hasil dari diskusi dan pertemuan ini bisa direalisasikan dalam kurun waktu sebulan ke depan.

Usai mengadakan diskusi dan pertemuan itu, para kontributor foto kemudian berpartisipasi sebagai peserta dalam Seminar bertajuk “Pendekatan alternatif dalam menangani permasalahan narkotika di Indonesia” di lokasi yang sama. Seminar yang juga diadakan oleh kerja sama antara PKNI dengan MaPPI FH UI ini sukses dihadiri sekitar 170 peserta.

“Kami sebagai perwakilan perempuan dari kelompok pengguna dan korban NAPZA mengapresiasi suksesnya kegiatan Seminar ini, terutama melibatkan kalangan akademisi dalam membahas isu NAPZA dan harapan kami semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut ke depannya,” kata salah satu peserta seminar sekaligus perwakilan PPKNI wilayah Bandung.

Selain perwakilan PKNI, tiga akademisi perwakilan UI dan Unika Atmajaya dilibatkan sebagai pembicara untuk membahas urgensi, landasan, serta wacana kedepan mengenai permasalahan narkotika di Indonesia. Khususnya dalam konteks kesehatan masyarakat dan dekriminalisasi penggunaan narkotika. Disamping itu juga turut hadir dua dari perwakilan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai pembicara dalam seminar tersebut.