What is Happening

05 Feb 2018

#KisahParalegal: Kurir Bebas, Pembeli Diperas

Bengkulu, 25 Juli 2016 – Rian (nama samaran-red), seorang pemuda berusia 26 tahun di Kota Bengkulu telah tertangkap tangan oleh aparat polisi setempat saat sedang menerima shabu dari kurir seberat 0,16 gram senilai Rp300.000 dalam sebuah bungkus plastik yang diantar kurir persis di depan kediamannya.

Penangkapan Rian terjadi saat siang hari sekitar pukul 12.00 WIB, tepatnya persis di depan rumah milik orang tua dari pemuda tamatan bangku sekolah dasar (SD) itu. Dan pada saat penangkapan terjadi, kurir yang mengantarkan shabu segera kabur dari lokasi dan bebas tanpa adanya pengejaran dari aparat polisi setempat.

Aparat kemudian melakukan penahanan dan membawa pria lajang itu menuju Polda Bengkulu. Sesampainya di polda, pihak kepolisian segera melakukan proses penyidikan dan menyusun berita acara pemeriksaan (BAP) bagi status tersangka Rian. Selama proses berlangsung, pihak penyidik menelusuri dari mana Rian mendapatkan shabu.

Melalui penyitaan dan pemeriksaan handphone pribadi milik tersangka serta alur bukti transfer dari rekening bank, penyidik ingin mengetahui keberadaan kurir pengantar shabu yang sebenarnya tidak dikenal oleh tersangka. Dan berdasarkan proses penyidikan di Polda Bengkulu, Rian dikenakan Pasal 112 ayat UU 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Pria yang sehari-harinya hanya berprofesi sebagai pengrajin kayu perabot rumah tangga ini kemudian didakwa telah melakukan tindak pidana Secara Tanpa Hak dan melawan hukum telah memiliki, menyimpan, menguasai, dan menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman sebagaimana yang dimaksud dalam pasal tersebut

PENYIDIK MELAKUKAN TRANSAKSI ATAS VONIS REHAB

Ayah Rian yang berusia 60 tahun menderita penyakit stroke dan sehari-harinya hanya bisa terbaring di tempat tidur. Sedangkan ibunya yang berusia tak terpaut jauh hanya bekerja cocok tanam di kebun belakang rumahnya yang sederhana.

Akhirnya Dina, adik dari Rian dan kedua orang tuanya memutuskan untuk mencari bantuan pendampingan hukum untuk kakak tercinta. “Saya dikasih tahu dari teman yang rumahnya dekat dengan saya, ada lembaga Pesona yang fokus pada pendampingan hukum untuk korban napza dan tanpa memungut biaya sepeser pun dan lokasinya dekat dengan rumah kami,” ujar Dina.

Beruntung Dina kemudian mendatangi bantuan paralegal Pesona dan mendapatkan informasi serta pendampingan hukum sampai pada proses banding di pengadilan tinggi. Pesona kemudian mendatangi kejaksaan setelah Dina memaparkan kasus Rian. “Kami melobi jaksa agar terdakwa Rian bisa di vonis rehab dan juga meminta TAT*, sebab barang bukti yang dimiliki oleh Rianh, yaitu shabu tidak mencapai bobot satu (1) gram, maka masih masuk ke dalam kategori pengguna atau pecandu,” tutur Koordinator Pesona Bengkulu, Rinto Harahap.

ADVOKASI KORBAN NAPZA OLEH PARALEGAL

Pesona juga membantu membuat pledoi permohonan rehabilitasi dari pihak keluarga Rian dalam proses advoksi di pengadilan. Dan dari penelusuran paralegal Pesona ditemui bahwa dalam BAP yang sudah sampai di kejaksaan, penyidik menyatakan bahwa pihak keluarga tidak bersedia menemui pihak penyidik untuk membantu tersangka Rian mendapatkan rehabilitasi, sehingga berkas diteruskan ke pengadilan negeri.

Advokasi pun diteruskan sampai ke hakim yang akhirnya menemukan titik terang dengan keputusan hakim yaitu menjatuhkan pidana 1 (satu) tahun dengan menetapkan masa penangkapan dan penahanan serta masa rerhabilitasi medis yang dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan sesuai dengan ketentuan UU No,35/2009. Meskipun setelah itu ada hal yang mengejutkan yaitu ketika jaksa penuntut umum kemudian mengajukan banding yang menolak putusan hakim, pada tanggal 30 November 2016. Sebulan kemudian, kami mendapatkan kabar baik dari Rian, bahwa dirinya telah diberikan surat salinan putusan yang menyatakan bahwa hakim menolak pengajuan banding dari jaksa penuntut umum.

Kami yakin bahwa pengajuan banding oleh jaksa akan ditolak, sebab selain hakim juga bingung mengapa penyidik tidak menangkap kurir melainkan malah menangkap pengguna dan juga tuntutan jaksa bertentangan dengan program pemerintah yaitu wajib rehabilitasi untuk pecandu atau pengguna napza,” ujar Rinto. Tidak sampai disitu saja tanggal 06 Februari 2017 Jaksa penuntut umun mengajukan permohonan kasasi terhadap Putusan Pengadilan tinggi bengkulu nomor: 1/Pid.Sus/2017PT.BGL.

Rian kemudian menghabiskan sisa masa hukuman pidana penjara dalam Lapas Bentiring, Kota Bengkulu dengan program rehabilitasi. Meskipun menurut Rinto, penjatuhan pidana berbeda dengan keputusan Pengadilan Tinggi Kota Bengkulu. “Dikatakan bahwa terdakwa dikenakan pidana penjara selama 1 tahun dan setelah di potong total masa penahanan baik di tingkat penyidik maupun di tingkat kejaksaan atau pengadilan, dengan ketentuan selama tiga bulan dari masa pidana tersebut dijalani dalam bentuk RSJKO Kota Bengkulu, dan seharusnya bukan di Lapas,” tuturnya.

Akhirnya tanggal 25 Juli 2017 masa penahan Rian habis dan kasasi pun memperkuat hasil putusan Pengadilan Negri Bengkulu tanggal 30 November 2016. Janggalnya, Jaksa Penuntut Umun menjemput Rian malam harinya dan membawa ke RSJK untuk direhabilitasi. Sungguh miris putusan yang semula ditolak kembali ingin diimplementasikan. Karena pihak keluarga Rian tidak mampu untuk membiayai beberapa hal yang harus disetujui di RSJK,  akhirnya Pesona membawa Rian pulang setelah koordinasi pada pihak kejaksaan.


#KisahParalegal

Pesona merupakan organisasi paralegal komunitas di kota Bengkulu yang fokus pada advokasi dan pendampingan pengguna atau korban Napza yang tidak memungut biaya sepeser pun. Dan Pesona Bengkulu merupakan salah satu anggota paralegal komunitas dari Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) sebagai jaringan korban napza nasional yang fokus pada kegiatan advokasi baik litigasi maupun non litigasi.

Rinto Harahap selaku koordinator mengatakan bahwa, “Pesona Bengkulu baru berusia 3 tahun sejak didirikan akhir tahun 2013. Namun hingga saat ini, kami sudah memiliki 16 staf, kami berusaha melakukan hal yang tepat dalam proses advokasi, ketika kami harus bersikap tegas kami akan berlaku tegas, namun ketika kami harus bersikap lembut, kami akan melakukannya,” tuturnya.


*TAT atau Tim Asesmen Terpadu. Asesmen adalah sebuah mekanisme penilaian terhadap seseorang untuk diidentifikasi sebagai pengguna narkotika atau bukan. Mekanisme inilah yang membedakan antara pengguna dengan pengedar.