What is Happening

08 Oct 2018

Pelatihan Gender bagi Komunitas Perempuan Korban Napza

Jakarta, 1 Juni 2018 - PKNI bekerja sama dengan UNWOMEN mengadakan pelatihan Gender dan HAM untuk Komunitas Perempuan Korban Napza dari seluruh Indonesia. Kegiatan yang didukung oleh UNODC dan UNAIDS ini diadakan di Red Top Hotel mulai dari 28 Mei 2018 sampai 1 Juni 2018. Salah satu tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memperkuat kesadaran kritis tentang hak-hak asasi perempuan, kesetaraan gender, dan pemahaman tentang kepemimpinan.

Pelatihan dimulai pada hari Senin dengan 20 peserta yang berasal dari Komunitas Perempuan Korban Napza dan dibuka oleh Arif R. Iryawan sebagai program manager PKNI. Arif menjelaskan tentang situasi perempuan pengguna Napza (PPN) di Indonesia saat ini. Ia menjelaskan bahwa penelitian PKNI dengan Oxford University yang dinamakan Perempuan Bersuara, merupakan penelitian pertama yang dikhususkan untuk perempuan pengguna Napza di Indonesia. Penelitian ini memperlihatkan bahwa perempuan merupakan kelompok rentan yang kerap mendapatkan stigma, diskriminasi, bahkan kekerasan dari pasangan atau oknum aparat penegak hukum.

Selanjutnya, pelatihan hari pertama diisi oleh perumusan etika, konsen, dan refleksi diri atau River of Life. Para peserta diminta membagi hidupnya menjadi lima fase dan mengisi ‘sungai hidupnya’ dengan pengalaman yang paling diingat, baik yang baik atau yang buruk. Setelah itu, para peserta melakukan refleksi diri dan saling berbagi pengalaman untuk membebaskan diri dari pengalaman masa lalu atau masalah yang pernah dihadapi. Fasilitator berkata bahwa sesi yang paling sulit dan berat ini berfungsi sebagai fondasi rangkaian kegiatan pelatihan selanjutnya.

Rangkaian kegiatan esoknya diisi oleh pemaparan materi seperti pengantar HAM, analisis dan kesetaraan gender, serta feminisme. Pelatihan juga diisi dengan beberapa kegiatan partisipatif seperti games, studi kasus, sesi berbagi pengalaman individu, dan beberapa aktivitas lainnya.

Pada hari kedua, sesi dimulai dengan games yang memungkinkan seluruh peserta menjawab apa pemahaman masing-masing tentang HAM dan gender. Selanjutnya peserta juga diminta untuk menuliskan hal-hal yang pernah diucapkan atau didengar perihal gender, apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh laki-laki dan perempuan bagi masyarakat. Tulisan seperti, “perempuan harus bisa masak”, “perempuan harus patuh kepada suami”, “laki-laki harus mencari nafkah”,  dan “laki-laki tidak boleh menangis” kerap ditemui. Sesi hari kedua ini ditutup dengan studi kasus dan identifikasi masalah yang dialami dalam kasus tersebut. Seorang perempuan dengan seluruh masalahnya diibaratkan oleh seseorang yang dililit tali dari berbagai penjuru. Tali ini dapat dilepas dengan satu solusi yang menjawab permasalahan dalam studi kasus tersebut, yaitu kesetaraan gender.

Di hari selanjutnya, pelatihan difokuskan pada pemahaman tentang feminisme dan kaitannya tentang budaya patriarki dan kesetaraan gender. Untuk semakin memahami pentingnya kesetaraan gender, fasilitator membagi peserta dengan peran fiktif masing-masing. Para peserta diminta berdiri sejajar dan melangkah maju jika pernyataan fasilitator dianggap benar dan sesuai dengan peran yang didapatkan. Kegiatan ini dinamakan dengan Power Walk. Semakin maju langkah peserta maka semakin besar privilege yang didapatkan oleh peran tersebut dan sebaliknya. Kegiatan ini bermaksud untuk memvisualisasikan bahwa perbedaan-perbedaan pandangan yang dibentuk masyarakat dapat merugikan seseorang. Fevi, salah satu peserta dari Padang berkomentar bahwa ia hanya mampu melihat teman-temannya melangkah maju sedangkan ia tidak memiliki kesempatan apapun – peran yang ia dapatkan adalah pekerja seksual transgender. Sesi hari ini diakhiri dengan kegiatan kelompok yang mengidentifikasi masalah perempuan pengguna Napza, faktor keluarga dan lingkungan, serta akomodasi oleh organisasi tempat peserta beraktivitas.

Hari Kamis merupakan hari terakhir pelatihan. Sesi pelatihan dengan UNWOMEN ini diakhiri dengan diskusi kelompok untuk menghadirkan solusi atas beberapa permasalahan yang telah diindentifikasi di hari sebelumnya. Kelompok 2 misalnya, fokus pada pengembangan paralegal perempuan karena banyak perempuan yang belum mengerti hukum dan sering menjadi korban akibat hal ini. Kelompok 3 fokus pada pengembangan karakter yang didapatkan dari edukasi dan pemahaman yang sensitif gender baik untuk perempuan atau laki-laki. Serangkaian pelatihan sejak hari Senin diakhiri dengan kesan-kesan oleh peserta selama pelatihan. Christin, anggota AKSI NTB berkata bahwa pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan tetapi juga pemahaman untuk menerapkan ilmunya dalam ranah sehari-hari. Lain lagi komentar dari salah satu peserta asal Jakarta, ia mengatakan bahwa metode pelatihan ini sangat baik karena diawali dengan permasalahan individu yang menyebabkan pelatihan ini sangat personal dan berdampak besar bagi hidupnya.

Pelatihan pun ditutup dengan sesi foto bersama dan evaluasi khusus peserta dari PPKNI.