What is Happening

08 Oct 2018

Training of Trainers: Layanan HIV yang Responsif Gender

Bogor, 16 Agustus 2018 – PKNI bekerja sama dengan LINKAGES, UNODC, UNWomen, dan Rumah Cemara mengadakan Training of Trainers: Layanan HIV yang Responsif Gender pada 12 sampai 16 Agustus 2018 di Bogor. Peserta dari acara ini adalah 14 focal points PPKNI dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Makassar. Selain itu, pelatihan ini juga mengundang beberapa observer dari UNODC, PKNI, Rumah Cemara, dan Linkages.

Kegiatan pelatihan ini dilatarbelakangi oleh perbedaan kebutuhan yang dimiliki oleh perempuan pengguna Napza. Selain itu, perempuan pengguna Napza memiliki risiko mengalami kekerasan dan risiko terinfeksi virus seperti HIV, Hep-C atau infeksi menular lainnya yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Sayangnya, layanan pengurangan dampak buruk di Indonesia yang dapat mengakomodasi kebutuhan perempuan masih jarang sekali ditemukan.

Rangkaian pelatihan yang difasilitasi oleh tim fasilitator dari Angsamerah ini dibuka pada hari Minggu, 12 Agustus 2016 dengan pre-test untuk seluruh peserta. Perkenalan dan pembangunan konteks pelatihan difasilitasi oleh dr. Nurlan S dan Adhe ZP dari Angsamerah. dr. Nurlan memotivasi dan mengingatkan teman-teman peserta untuk mencari motivasi agar dapat mengikuti rangkaian pelatihan ini dengan sebaik mungkin. Beliau juga memberikan pencerahan bahwa hasil dari pelatihan ini diharapkan mampu bermanfaat untuk orang banyak dan setiap individu peserta dapat balik ke daerahnya untuk memberikan manfaat ke komunitasnya masing-masing.

Pada hari Senin, rangkaian pelatihan kembali dilanjutkan. Modul panduan yang digunakan untuk pelatihan ini adalah terbitan INPUD (International Network of People who Use Drugs) yang berjudul “Mengatasi Kebutuhan Spesifik Perempuan Penasun: Panduan Praktis bagi Penyedia Layanan untuk Layanan HIV yang Responsif Gender” yang ini telah dialihbahasakan oleh UNODC Indonesia. Modul ini terdiri dari sembilan bab di dalamnya dengan bab yang telah diurutkan secara khusus untuk keperluan pelatihan. Urutan materi bab pelatihan adalah: Persiapan Pelatihan dan Fasilitasi; Ketrampilan Fasilitasi, Prinsip Pelatihan untuk Dewasa; Gender; Harm Reduction dan Fokus pada Perempuan; Pelayanan untuk Perempuan Pengguna Napza; Peningkatan Organisasi dan Manajemen; Perencanaan Layanan yang Responsif Gender; Monitoring dan Evaluasi; dan Advokasi dan Fasilitasi Proses Dialog Kebijakan.

Selain teman-teman dari Angsamerah, tim fasilitator juga dilengkapi oleh dr. Ayie S.K yang datang membawakan materi Harm Reduction & Fokus pada Perempuan serta Pelayanan untuk Perempuan Pengguna Napza. Dalam sesinya, beliau berkali-kali mengingatkan teman-teman peserta untuk dapat bersikap yang baik sebagaimana untuk mendapat perlakuan baik dari orang lain. “Perempuan pengguna Napza juga jangan mau semaunya aja dong, untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi juga harus buktikan bahwa memang tidak seperti itu,” katanya.

Sepanjang pelatihan, fasilitator membawakan materi secara beragam untuk mempermudah pemahaman para peserta. Misalnya, dr. Juna R. Damanik dan M. Kurnia D dari Angsamerah membawakan modul tentang Gender dengan permainan “Mind, Heart, and Body” serta “powerwalk”. Selain itu, peserta juga diberikan kesempatan khusus untuk praktik, misalnya dalam keterampilan fasilitasi dan dialog kebijakan. Saat keterampilan fasilitasi, peserta dibagi menjadi tujuh kelompok dengan dua orang setiap kelompoknya untuk memfasilitasi pelatihan sesuai dengan bab modul yang didapatkan. Merry Natalia, focal point asal Pontianak yang mendapatkan giliran pertama mengatakan bahwa ia sangat nervous dan latihan seperti ini sangat ia butuhkan untuk nanti ketika memfasilitasi teman-teman di daerahnya.

Acara pelatihan ini ditutup setelah latihan dialog kebijakan sebagai agenda terakhir selesai. Penutupan acara ini dihadiri oleh Collie Brown selaku Manajer Negara UNODC Indonesia. Beliau dibantu dengan Ade Aulia dari UNODC sebagai penerjemah memberikan kata penutup. “I am exteremely grateful that you, of all people choose to be here. You don’t have to attend this training, but you chose it yourself – and that’s the best kind of trainees,” ucapnya saat menutup acara. Sebelum pelatihan resmi dibubarkan, beliau juga menyerahkan sertifikat kepada peserta yang hadir dan acara resmi ditutup dengan sesi foto bersama.

Hasil dari pelatihan ini diharapkan para focal points PPKNI mampu untuk menjadi fasilitator dalam membawakan modul panduan ke komunitas dan daerahnya masing-masing. Beberapa daerah yang telah ditentukan dalam rangkaian agenda pelatihan ini adalah:

              Bandung (10-13 September)

              Bengkulu (7-11 Oktober)

              Bali (21-25 Oktober)

              Makassar (11-15 November)

              Medan (3-6 Desember)