What is Happening

08 Oct 2018

Lokakarya Pengembangan Layanan HIV yang Responsif Gender-Bandung

Bandung, 13 September 2018 – Pada Agustus kemarin PKNI bekerja sama dengan beberapa lembaga yaitu UNODC, UNODC, UN-Women, dan Rumah Cemara mengadakan kegiatan Training of Trainers: Layanan HIV yang Responsif Gender. Pelatihan ini dilanjutkan ke dalam rangkaian Lokakarya Pengembangan Layanan HIV yang Responsif Gender yang dilaksanakan di beberapa provinsi di Indonesia. Provinsi pertama tempat lokakarya adalah Bandung. Lokakarya ini di fasilitasi oleh tim dari Angsamerah, fasilitator lokal, dan calon pelatih dari PPKNI yaitu Dona Palentina, Sekar Putri Tanjung, dan Syarmila yang masing-masing merupakan focal point PPKNI dari Bandung, Bekasi, dan Jambi.

Dua puluh satu peserta lokakarya hadir selama lima hari acara lokakarya. Acara Lokakarya berjalan dengan baik dan lancar. Selain bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap komunitas, acara ini juga sebagai ajang latihan fasilitasi bagi para calon pelatih dari PPKNI. Dona Palentina, salah satu calon pelatih mengatakan bahwa ia sangat senang dapat kesempatan seperti ini dan kesempatan ini memaksanya untuk terus belajar lagi. Perasaan yang sama juga dirasakan oleh Syarmila, ia merasa senang dan beruntung karena dapat diapresiasi dan diakomodasi secara nasional dalam belajar.

Pembelajaran tidak hanya didapatkan oleh para peserta lokakarya saja. Para calon pelatih juga mendapatkan banyak sekali hal dan pengalaman baru. Sekar Putri mengatakan bahwa ia banyak belajar salah satunya adalah kerja tim. “Dan di sini memang penting banget kerja tim. Saling back up, saling mengisi. Dan yang pasti tercapainya goal dari kegiatan ini,” tambahnya. Ketiga calon pelatih juga sepakat bahwa evaluasi yang dilakukan setiap hari di akhir sesi sangat krusial dalam memperbaiki kesalahan serta meningkatkan hal-hal positif yang sudah ada.

Salah satu poin dalam evaluasi adalah butuhnya persiapan yang lebih matang. “Yang harus diperbaiki dalam kegiatan adalah peningkatan kualitas dan pengayaan materi, serta berbagi tugas dan fungsi job desc,” tutur Syarmila. Pernyataan ini juga didukung oleh Dona selaku rekan fasilitator yang merasa butuh persiapan yang lebih baik lagi dalam cara penyampaian materi seperti mempersiapkan games kerja sama yang dapat meningkatkan perhatian peserta lokakarya. Semua hal perlu diperhatikan dalam mencapai tujuan dan luaran dari lokakarya ini. “Jadi bukan cuma sekadar menyuarakan kebutuhan doang tapi emang harus disupport oleh semua populasi kunci untuk diperhatiin pemegang kebijakan,” ujar Donna ketika ditanya apa hasil yang diharapkan dari lokakarya ini.

Jadwal Lokakarya selanjutnya:

  1. Bengkulu (7-11 Oktober)
  2. Bali (21-25 Oktober)
  3. Makassar (11-15 November)
  4. Medan (3-6 Desember)