What is Happening

07 May 2015

Hak Paten vs Hak Pasien

Sebuah pertanyaan penting yang perlu dijawab pemerintah dan kita semua adalah; "Mana lebih penting Hak Pasien atau Hak Paten?"

Rancangan Undang-Undang (RUU) Paten saat ini jadi prioritas Undang-Undang yang akan disahkan oleh pemerintah Indonesia di tahun 2015. Ini menjadi penting buat hajat orang banyak karena Hak Paten seringkali jadi penghambat pasien untuk mengakses obat, karena Hak Paten menyebabkan harga obat menjadi mahal, apalagi ini banyak terjadi di obat-obatan penyelamat hidup. Tentu saja ini berujung pada tingkat kesehatan masyaraka Indonesia yang makin terbelakang.

Terkait  masalah tersebut pada Selasa 5 Mei 2015, bertempat di Bakoel Koffie, Cikini, Indonesia AIDS Coalition (IAC) atas nama Koalisi Obat Murah (KOM) ingin mengajak rekan-rekan dari media untuk hadir dalam Media Briefing yang akan mendiskusikan “Hak Paten versus Hak Pasien”. Sebagai narasumber ada Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif, Indonesia AIDS Coalition dan Lutfiyah Hanim dari Third World Network.

Definisi Paten sendiri baik di dalam Undang-undang yang ada maupun yang nanti akan disahkan, adalah satu hak eksklusif yang diberikan oleh Negara pada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk jangka waktu tertentu untuk melaksanakan invensinya atau memberikan persetujuan pada pihak lain untuk melaksanakannya.

Salah satu yang jadi objek paten adalah produk farmasi yang dapat berupa obat-obatan dan alat kesehatan. Hak yang seharusnya ada untuk memberikan penghargaan pada penemu dalam pandangan kesehatan public justru memberikan dampak negative, yaitu meningkatnya harga obat.Di Indonesia obat paten bias jadi 10 sampai 45 kali lebih mahal. Hal itu sering disiasati dengan ketentuan impor parallel dan lisensi wajib sesuai dengan ketentuan TRIPS (Trade Related aspects of Intellectual Property Rights) namun sayangnya sering kali ditentang oleh Negara maju.

Dalam konteks HIV, kompetisi dari produk generik di farmasi telah membuat harga ARV menjadi lebih rendah yang otomatis meningkatkan akses.  Seharusnya hal ini bisa terjadi juga untuk obat-obatan penyakit lain yang menular seperti Hepatitis C atau yang tidak menular seperti  Diabetes.

RUU Paten yang baru memang ditengarai lebih responsive disbanding RUU Paten sebelumnya namun ada beberapa catatan penting yang dianggap penting seperti memasukan penyakit tidak menular ke dalam cakupan kepentingan nasional yang mendesak, Definisi produk farmasi yang perlu diperluas, paralel impor yang tidak dibatasi pada produk farmasi saja, serta bolar provision sebaiknya direapkan tanpa ada jangka waktu.

Dari diskusi ini semoga pemerintah menyadari mana yang lebih penting, Hak Paten atau Hak Pasien?