What is Happening

11 Aug 2017

MERAYAKAN SATU DEKADE PKNI

 

 

JAKARTA, 9 Agustus 2017 – Persaudaraan Korban NAPZA Indonesia (PKNI) pada hari ini menggenapi perjalanan usia 10 tahun. Perayaan satu dekade ini menjadi moment yang bersejarah untuk menapak tilas perjuangan PKNI sejak masih menjadi ‘embrio’. Dan secara khusus dalam perayaan ini PKNI mengundang saksi-saksi hidup bersejarah yang menjadi aktor utama dalam panggung acara yang diselenggarakan di Hotel Dafam, Cawang.

 

Acara dimulai sekitar pukul 14.00 WIB usai makan siang bersama dan pembukaan disampaikan secara singkat oleh Edo Agustian selaku Koordinator Nasional (Kornas) ketiga untuk dua periode sejak tahun 2011. Dalam pembukaan, Edo menekankan pada 4 (Empat) hal penting atau kerja yang telah dilakukan oleh PKNI selama ini yang bertujuan untuk memenuhi HAM dari pengguna NAPZA.

 

Pertama, advokasi yang telah dilakukan PKNI untuk para pengguna NAPZA baik litigasi maupun non-litigasi. Kedua, capacity building yang kami lakukan untuk para komunitas PKNI. Ketiga, penguatan kelompok-kelompok simpul di seluruh wilayah kerja PKNI. Dan yang terakhir yaitu networking atau kerja jaringan bersama pihak yang mendukung upaya advokasi, salah satunya dengan BNN.

 

“Kami ingin mendengar masukan dari banyak pihak tentang apa yang selama ini sudah kami lakukan, terutama dalam moment 10 tahun perjalanan PKNI sejak tahun 2006. Tapi sebelumnya kita akan menonton sebuah film singkat tentang kilas balik PKNI,” ujar Edo.

Perayaan usia selalu identik hampir selalu identik dengan hadiah, dan pada kesempatan kali ini, kehadiran salah satu individu yang ikut berjuang dan menjadi saksi cikal bakal PKNI pada masa lampau. Bani Setiabudi, atau yang akrab disapa dengan panggilan Kang Bani, siang itu tampak sumringah selaku pembicara undangan perayaan satu dekade PKNI.

Pria yang dikenal baik sebagai salah satu pendiri atau penggerak dari cikal bakal PKNI ini tampak serius dan terharu menikmati tayangan film singkat tentang kegiatan PKNI sebelum talk show dimulai. Selain Kang Bani, turut hadir Andreas Istiawan, sebagai kornas pertama di PKNI yaitu pada tahun 2006 dan yang terakhir yaitu perwakilan dari BNN yang secara khusus diundang selaku pembicara dalam perayaan satu dekade PKNI sebagai salah satu mitra dari pemerintah atau stakeholder.

Usai layar film dimatikan dan lampu ruangan meeting dinyalakan kembali, keheningan dipecahkan oleh Suhendro Sugiharto atau yang akrab dikenal dengan panggilan Ebe selaku moderator yang menekankan pentingnya melakukan kilas balik sebagai pengingat arah perjuangan PKNI dalam memperjuangkan hak kemanusiaan.

Selanjutnya ia memperkenalkan para pembicara undangan termasuk dirinya sendiri. “Turut Hadir Kasubdit Fasilitasi Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat dari BNN, yaitu Ibu Ni Made Labasari, selamat siang Ibu, terima kasih sudah hadir bersama kami,” katanya.

Andreas selaku pembicara pertama menyampaikan kilas balik situasi umum sebelum masa kepemimpinannya, yaitu moment yang mendorong PKNI melakukan kerja advokasi bagi para pengguna NAPZA. “Pasca tahun 2000, teman-teman mulai berpikir dan mulai mengorganisir, bahwa seharusnya kami tidak dipenjara. Dan kita mulai berkomitmen serius melakukan upaya advokasi kita, meskipun masih ada pergumulan dalam diri teman-teman kita,” ujarnya.

Ia melanjutkan kilas balik dan cikal-bakal perjuangan PKNI yang dimulai pada saat kongres pertama di Makassar, yaitu penentuan arah organisasi. “Teman-teman yang tadinya tidak tahu mau melakukan apa kemudian mulai memiliki fokus advokasi yang dimulai dengan vonis rehab pada waktu itu. Dan menurut saya sampai dengan saat ini PKNI satu dekade, semangat awal melakukan advokasi itulah yang perlu dijaga,” katanya.

Kemudian, Ebe sang moderator melemparkan pertanyaan kepada pembicara kedua, yaitu Bani, “Ngomong-ngomong soal organisasi dan pergerakan, apa sih yang menurut Kang Bani perlu dipertahankan atau kenapa menurut anda semangat itu perlu dijaga?”

Pria yang mengenakan kaca mata itu dengan antusias mengawali jawaban dengan menceritakan perjuangan dari embrio PKNI yang bermula dengan melakukan aksi bersama ratusan pecandu aktif di Gedung DPR sampai berhasil bertemu dengan Ketua Komisi II dan menyampaikan kebutuhan kami sebagai pecandu yang perlu di rehabilitasi. 

“Saya senang melihat mimpi yang dulu sekarang terwujud di PKNI. Saya bangga melihat PKNI memperjuangkan pecandu. Pesan saya agar PKNI terus memperbanyak simpul-simpul di wilayah. Tolong perjuangkan apa yang teman-teman rasakan, karena teman-teman sendiri yang ada di dalam regulasi. Kalau lo ngerasa lo bagian dari PKNI, kita saudara, jangan ada pengkotak-kotakan, pusat dan wilayah saling membantu,” ujarnya.

Senada dengan kedua pembicara sebelumnya yang mendukung agar PKNI melanjutkan perjuangannya, Made turut menyampaikan pesan dan harapannya untuk PKNI. “Agar program-program yang sudah banyak dilakukan oleh PKNI dilakukan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Jangan putus, kerja terus dan semoga untuk ke depan bukan hanya kemitraan dengan BNN saja,” ia mengutarakan.

Jelang sore hari, mendekati pukul 16.00 WIB penutupan acara, Ebe selaku moderator dan juga pernah berkarya bersama dengan PKNI sebagai Program Manager turut menyampaikan pesan dan harapannya untuk PKNI. “Terima kasih untuk semua yang sudah hadir disini, mudah-mudahan PKNI ke depan makin hebat, makin maju, kita harus tetap hidup dengan advokasi. Sebab PKNI itu advokasi dan advokasi itu gak akan mungkin pernah behenti,” katanya.