What is Happening

21 Nov 2017

TANGANI GEJALA OVER DOSIS, HUBUNGI CALL CENTRE 119

Jakarta, 16 November 2017 – PKNI bersama dengan perwakilan dari Kementerian Kesehatan RI, Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, dan Persatuan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) mengadakan diskusi mengenai situasi terbaru  dalam bidang pencegahan dan penanganan over dosis NAPZA. Kegiatan ini melibatkan sejumlah perwakilan komunitas jaringan PKNI dari dua puluh kota besar di Indonesia, khususnya yang berpengalaman dalam praktek manajemen overdosis.

Bertempat di Hotel Dafam, Cawang, kegiatan diskusi dimulai pada pagi hari sekitar pkl. 9.30 WIB dengan sesi pemaparan pertama mengenai tatalaksana dan standar penanganan over dosis. Disampaikan oleh perwakilan Subdit Masalah Penyalahgunaan Napza Kementerian Kesehatan, dr. Lucia Maya Savitri.

Dalam pemaparannya dr. Lucia menyampaikan salah satu layanan terbaru dari Kementerian Kesehatan dalam manajemen over dosis Napza, yaitu Call Centre 119. “Permenkes No. 9 Tahun 2016 yang mengatur tentang Sistem Penanganan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT),” ujar dr Lucia.

Ketika call centre menerima panggilan darurat melalui nomor telepon 119, maka manajemen pusat akan segera menginformasikan hal penting terkait penganganan overdosis, salah satunya yaitu ketersediaan layanan rumah sakit yang ada dan informasi ambulance. Meskipun layanan terbaru ini bekerja selama 24 jam, namun seperti yang disampaikan oleh dr. Lucia, masih ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti ketersedian SDM.

“Manajemen SPGDT sudah didukung dengan SDM yang tersertifikasi, dan ke depannya layanan ini juga harus diperhatikan apakah di tingkat daerah (luar Jakarta) juga sudah terpenuhi kebutuhan SDM-nya seperti di pusat (Jakarta),” ia menyampaikan.

Selain layanan call centre tersebut, dr. Lucia juga menjelaskan situasi terbaru terkait ketiadaan Naloxone dalam layanan PTRM kepada semua peserta, “Masih menjadi ‘pe-er’ kami (kemkes) dalam mengupayakan Naloxone agar tersedia di semua lokasi. Rencananya kami akan segera melakukan evaluasi untuk menggali masalah utama dari keterbatasan fasyankes menyediakan, sehingga kami bisa memberikan solusinya,” ia mengutarakan.

Sesi pemaparan selanjutnya disampaikan oleh Kasie Pelayanan Medis RSKO Jakarta, dr. Budi Raharjo yang menyampaikan materi tentang tatalaksana Intoksikasi Napza di fasilitas pelayanan kesehatan. Secara mendasar, dalam pelayanan umum manajemen overdosis, tindakan penyelamatan hidup dalam penanganan overdosis dilakukan melalui prosedur ABC, yaitu Air way, Breathing, Circulation.

“Seperti menjaga posisi tubuh pasien yang overdosis agar pernapasannya tidak terganggu dan posisi lidah tidak membahayakan keselamatannya, sampai terjadi kestabilan pada tekanan darah dan pernapasannya,” ia menjelaskan.

Selanjutnya dalam sesi tanya jawab, kedua pemberi materi menjelaskan bahwa dalam istilah medis, RSKO Jakarta dan Kementerian Kesehatan menggunakan istilah “intoksikasi” untuk menggambarkan kondisi overdosis, sebab gejala overdosis merupakan gejala medis dari keracunan akibat penggunaan dosis berlebih. Hal ini disampaikan mereka untuk menjawab pertanyaan sejumlah peserta mengenai perbedaan kedua istilah.

Selain itu, dr. Budi juga menjelaskan kepada semua peserta mengenai banyaknya laporan yang dibuat oleh layanan rumah sakit terkait dengan kondisi pasien overdosis menjadi keracunan makanan dan sejenisnya. “Karena BPJS tidak meng-cover untuk overdosis, jadi kebanyakan rumah sakit membuat laporannya dengan keracunan yang lain, seperti salah satunya keracunan makanan,” ia mengutarakan.

Materi terakhir dalam diskusi ini disampaikan oleh Ketua PBHI, Totok Yulianto, yaitu sejumlah payung hukum pidana terkait dengan tindakan pertolongan overdosis. Salah satu pasal dalam KUH Pidana yang melindungi tindakan pertolongan terhadap kondisi overdosis, yaitu Pasal 531.

“Tidak ada masalah kalau seseorang melakukan pertolongan misalnya kepada teman yang OD, selama niatnya menolong dan itu bisa dibuktikan secara medis juga terkait dengan prosedur menolong yang salah atau benar jika tindakan tersebut misalnya menyebabkan kematian,” ia menjelaskan.