What is Happening

14 Feb 2018

Perempuan Korban Napza Bersuara: Kekerasan dalam Penanganan Hukum

Selasa, 12 Februari 2018 – Perwakilan Perempuan Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PPKNI) berbagi fakta pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) melalui data penelitian Perempuan Bersuara (September 2014 dan Juni 2015) dan pengalaman langsung dari balik jeruji. Tiga perempuan hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Lokakarya Perempuan Terpidana Narkotika di Indonesia untuk memberikan masukan dalam diskusi tematik yang diselenggarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM) di Jakarta.

Salah satu narasumber dalam diskusi tersebut adalah Rima Ameilia, Koordinator Lapangan dalam Studi Kuantitatif Perempuan Bersuara yang melibatkan 731 responden penelitian perempuan pengguna Napza dengan jarum suntik di Jabodetabek dan Bandung. Kehadiran Rima pada siang itu mewakili Claudia Stoicescu yang berhalangan hadir selaku peneliti utama dan penulis dalam penelitian tersebut.

Dibandingkan dengan laki-laki yang menggunakan dan menyuntikan Napza, perempuan memiliki stigma dan diskriminasi yang lebih tinggi, tingkat HIV yang lebih tinggi, peningkatan kematian terkait AIDS, perkembangan lebih cepat dari penggunaan Napza menjadi ketergantungan, kemudian kurangnya akses untuk pelayanan kesehatan dan tingginya tingkat kekerasan dari pasangan intim dan non-intim,” ia memaparkan.

Diketahui sebanyak 42% responden penelitian hidup dengan HIV dan sebanyak 65% memiliki gejala infeksi menular seksual. Data yang dipaparkan Rima juga menunjukan tingginya angka kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum aparat penegak hukum dalam proses penahanan. Sebanyak 87% responden mengaku mengalami pemerasan, 60% mengalami pelecehan verbal, 27% mengalami kekerasan fisik, dan 5% mengalami kekerasan seksual.

Rima menyampaikan dari salah satu data awal pendukung dalam penelitian ini yang diambil dari Survey Terpadu Biologis & Perilaku (STBP) Kemenkes tahun 2009 diketahui sebanyak 57.1% dari perempuan pengguna jarum suntik hidup dengan HIV, sementara untuk laki-laki mencapai 52.1%. Namun sulit untuk memahami tren penggunaan napza, prevalensi, dan prilaku beresiko pada perempuan sebab ukuran sampel perempuan terbilang sangat kecil dan tidak mewakili perempuan sebagai fenomena.

Penelitian ini berupaya untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas pada perempuan pengguna napza dengan jarum suntik guna mendapatkan rekomendasi yang berbasiskan bukti untuk dapat mengurangi dampak buruk napza dan HIV/AIDS. Sebab sampai saat ini belum ada program yang spesifik menargetkan populasi perempuan.

Selanjutnya dalam diskusi ini, narasumber lain yang juga tergabung dalam tim inti peneliti atau studi kuantitatif tersebut memberanikan diri untuk menceritakan kisah pilu yang dialaminya bertahun silam kepada lima belas orang dalam sebuah ruang diskusi tertutup. Tepatnya pada tahun 1997 ketika kali pertama berhadapan dengan sejumlah oknum aparat penegak hukum. Meskipun sudah terjadi sekitar 20 tahun lalu, pengalaman tragis ini tidak pernah sekalipun mudah untuk disampaikan.

Sebut saja Cinta, ibu dengan tiga anak yang siang itu mengenakan jaket coklat berlengan panjang dengan rambut sebahu dan kacamata, masih terbata-bata dan berkali-kali menarik nafas panjang berusaha menuturkan pengalaman kekerasan seksual. “Mata saya ditutup, sedangkan di ruangan sebelah pasangan saya yang juga ditangkap sedang dipukuli,” ujar Cinta dengan nada kemarahan dan menahan tangis.

Cinta mengungkapkan sejak penangkapan, penahanan hingga menjalani hukuman dalam lapas, tidak sekalipun dirinya ditawarkan bantuan dari kuasa hukum. Maka, salah satu rekomendasi dalam penelitian Perempuan Bersuara yang ditujukan kepada pembuat kebijakan yaitu agar membangun sistem pemantauan dan pelaporan terkait kekerasan yang melibatkan polisi dan pasangan intim, termasuk layanan konseling pasca kekerasan khusus perempuan yang menggunakan dan menyuntikkan Napza.


Perempuan Bersuara, studi kuantitatif, “Memahami Perempuan Pengguna Jarum Suntik”, 2016. Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi komunitas-akademisi, yaitu PKNI dan University of Oxford. Dengan dukungan lembaga maupun jaringan masyarakat sipil dalam isu Napza. Penelitian ini didanai oleh Australian Injecting and Illicit Drug Users League (AIVL), Asian Network of People Living with HIV (APN+), Canadian Institutes of Health Research (CIHR), the Pierre Elliott Trudeau Foundation (PETF), dan UNAIDS Indonesia. Pencetakan laporan ini secara finansial didukung oleh International Network of People Who Use Drugs (INPUD)