What is Happening

20 Mar 2018

#KisahParalegal: Paralegal Sebagai Pejuang Keadilan Pengguna Napza Dalam Sistem Peradilan Pidana

Bogor, 19 Maret 2018 - Dini hari pada pukul 02.00 WIB, seorang perempuan pengguna Napza, FA (bukan nama sebenarnya) ditangkap di sebuah apartemen di Bogor oleh Satnarkoba Polresta Bogor. Tanpa ditemukan barang bukti Napza, FA langsung dibawa ke Polresta Bogor untuk penyidikan.

FA langsung menghubungi LBH PEKA, sebuah lembaga bantuan hukum yang bermitra dengan Persaudaraan Korban Napza Bogor dalam melakukan pendampingan kasus Napza di Bogor. Setelah berdiskusi mengenai strategi pendampingan, Rosma Karlina sebagai paralegal perempuan ditunjuk untuk menangani kasus ini.

Rosma pun segera mendatangi Polresta Bogor dan menemui klien serta penyidik. Mengetahui bahwa FA adalah klien terapi Metadon yang juga Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), Rosma langsung membawakan Metadon dan ARV agar kebutuhan kesehatan FA dapat segera terpenuhi. Khawatir tidak terpenuhinya kebutuhan khusus FA selama masa tahanan, Rosma mendorong penyidik agar memulangkan FA supaya ia dapat melanjutkan terapi Methadonnya.

Setelah berdiskusi dengan penyidik, akhirnya penyidik setuju untuk memulangkan klien dengan alasan kesehatan. “Saya manusia, saya mengerti keadaan FA,” ujar Penyidik. Akhirnya, setelah membuat surat pernyataan bahwa paralegal bertanggung jawab atas FA dan akan mengarahkan FA untuk kembali menjalani perawatan, klien kembali ke rumah dan melanjutkan terapi.

Alfiana Qisthi, Pelaksana Advokasi Hukum Persaudaraan Korban Napza Indonesia menilai pentingnya peran paralegal komunitas sebagai primary justice. “Dalam rezim kriminalisasi pengguna Napza, ditambah lagi dengan sedikitnya bantuan hukum yang layak bagi pengguna Napza yang berhadapan dengan hukum, peran paralegal komunitas korban Napza sangatlah penting dan dibutuhkan untuk memperjuangkan keadilan bagi pengguna Napza dalam sistem peradilan yang carut-marut ini. Tidak hanya dari segi hukum, paralegal komunitas juga mampu memahami kondisi dan kebutuhan khusus teman-teman mereka, baik kesehatan maupun psikologisnya, yang seringkali luput dari perhatian penegak hukum.”

Dalam kasus ini, Alfiana juga memandang pihak kepolisian telah memberlakukan diversi dalam penanganan kasus pengguna Napza. “Penyidik dalam kasus ini layak mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya, di mana ia sebagai penyidik menggunakan diskresinya untuk menghentikan perkara FA demi kepentingan kesehatan FA. Apabila seluruh aparat penegak hukum di Indonesia mengerti dan menggunakan diskresinya dalam menangani kasus pengguna Napza, tentunya penanganan permasalahan Napza di negeri ini akan semakin baik,” tuturnya.

#KisahParalegal


Metadon adalah opiat (narkotik) sintetis yang kuat seperti heroin (putaw) atau morfin, tetapi tidak menimbulkan efek sedatif yang kuat. Metadon biasanya disediakan pada Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM), yaitu program yang mengalihkan pengguna heroin pada obat lain yang lebih aman.

ARV atau Antiretroviral adalah obat anti HIV yang dapat menekan perkembangan HIV dalam tubuh.