What is Happening

05 May 2017

Perempuan PPKNI Harapkan Ruang Khusus Perempuan Pengguna Napza

TAMBUN, BEKASI – Sebelas orang perwakilan perempuan dari perkumpulan Persaudaraan Perempuan Korban Napza Indonesia (PPKNI) mengadakan pertemuan kecil di @HOM Hotel, pada hari Rabu sore, 3 Mei 2017 untuk membahas rencana tindak lanjut dari Deklarasi Jenggala pada tahun 2016 lalu. Sebagai focal point khusus perempuan di PKNI, mereka bertujuan untuk mengakomodir kebutuhan pengguna napza yang berperspektif perempuan dari 12 (dua belas) wilayah di Indonesia.

 

Acara dibuka oleh Sari Dewi Aznur atau akrab disapa dengan panggilan Teh I’ie, mojang Bandung, pada pukul 15:20 WIB. Setelah menyambut 11 (sebelas) peserta pada sore hari itu kemudian Teh i’ie membuka acara dengan gayanya yang riang dan santai dengan mengenakan kerudung hitam dengan gamis hitam dengan sedikit motif bunga-bunga bernuansa kecoklatan.

“Teman-teman terima kasih atas apresiasinya hari ini terutama dari PKNI, kita di sini sebenarnya mau melanjutkan dari Deklarasi Jenggala dan menyamakan persepsi yang berdasarkan dari renstra PKNI, teman-teman PPKNI sepakat bahwa secara struktur kami perempuan PPKNI berharap bisa menjadi pendamping, bukan sebagai anggota atau di bawah PKNI, intinya secara konsep kita setara dengan PKNI,” ujarnya.

Sari melanjutkan penjelasan yang mewakili tujuan dari PPKNI secara keseluruhan, bahwa PPKNI tidak akan bersaing dengan PKNI, melainkan berharap agar PPKNI diberikan ruang dan wadah khusus untuk mengakomodir kebutuhan-kebutuhan perempuan pengguna napza yang selama ini tidak nyaman dibicarakan di PKNI. Selain itu juga PPKNI melihat kurangnya jumlah keterwakilan perempuan dalam PKNI selama ini.

Turut hadir perwakilan PKNI yaitu Arif R. Iryawan selaku Program Manager dari PKNI dengan antusias, Kang Arif alias Ripe panggilan akrabnya segera merespon pembukaan acara yang dibawakan oleh Sari dengan menyampaikan informasi kegiatan PKNI yang memfasilitasi kebutuhan focal point perempuan pengguna napza.

“Saya dari PKNI dan bersama teman-teman lain di Seknas sudah memulai langkah-langkah untuk memfasilitasi teman-teman PPKNI berdasarkan dari dokumen-dokumen seperti Deklarasi Jenggala dan juga ngobrol dengan beberapa teman-teman lain, setidaknya mengumpulkan persyaratan administrasi untuk legalitas PPKNI,” tutur Kang Ripe.

Arif melanjutkan dengan menjelaskan posisi PKNI saat ini yang tengah menunggu hasil dari pengajuan proposal yang telah rampung dan diterima oleh satu lembaga donor pada akhir Maret 2017. Ia memaparkan bahwa proposal ini merupakan salah satu upaya PKNI untuk memfasilitasi eksistensi PPKNI terkait struktur organisasi sampai dengan capacity building dan kemitraan perempuan dengan stakeholders serta media massa.

Creative Writing, Public Speaking, dan Women Paralegal, semacam support program untuk kegiatan PPKNI yang kami sudah tuangkan dalam Proposal UNODC sebagai kebutuhan capacity building teman-teman,” ia melanjutkan.

Selain itu, Arif juga mempersilahkan PPKNI untuk melengkapi dokumen pendukung terkait langkah PPKNI menuju organisasi berbadan hukum. Hal-hal tersebut disampaikan oleh Arif sebagai bentuk support dan motivasi dari PKNI untuk seluruh anggota PPKNI.

Menjawab support tersebut, PPKNI yang diwakili oleh Sari menegaskan kembali pertemuan sore ini juga  menjadi awal yang baik untuk membuat draft khususnya berisi visi dan misi secara organisasi yang diperlukan terkait langkah progresif dari eksistensi PPKNI selanjutnya.

Terakhir sebelum acara ditutup menjelang adzan maghrib waktu setempat, 10 (sepuluh) perempuan perwakilan PPKNI sepakat menunjuk Melly Windy selaku penanggung jawab sementara kegiatan PPKNI untuk melengkapi pengumpulan data keanggotaan dan dokumentasi administratif, serta mengadakan pertemuan selanjutnya bersama PKNI.